Museum Renaissance Antonio Blanco

Museum Renaissance Antonio Blanco
Kabupaten Gianyar – Bali – Indonesia
Museum Renaissance Antonio Blanco

Museum Renaissance Antonio Blanco di Campuhan, Ubud, Gianyar, Bali

A. Selayang Pandang

Kawasan Ubud memang dikenal sebagai kampungnya para seniman besar. Di tempat ini banyak seniman mengembangkan karir keseniannya. Sebut saja nama seniman besar seperti Miguel Covarrubias yang mempopulerkan Bali melalui bukunya The Island of Bali, juga Walter Spies yang menjadi kreator Tari Kecak bersama I Wayan Limbak, mereka pernah tinggal di kawasan Ubud pada tahun 1920-an. Seniman besar generasi selanjutnya adalah Don Antonio Blanco, pelukis kenamaan berdarah Spanyol yang mulai menetap di Ubud sejak 1952. Ketertarikan pelukis kelahiran 15 September 1911 di Manila, Filipina ini terhadap Pulau Bali bermula ketika dirinya menemukan buku klasik karangan Miguel Covarrubias. Bayangan masa kecilnya tentang pulau jauh yang indah dan eksotis terasa lengkap dalam gambaran buku karya Covarrubias tersebut (www.balipost.com).

Bakat seni dalam diri Antonio Blanco mulai terasah sejak sekolah di American Central School, di Manila. Lulus dari sekolah tersebut, ia melanjutkan kuliah di National Academy of Art di New York, Amerika Serikat. Saat itu, kertertarikannya terhadap subyek anatomi tubuh, khususnya tubuh wanita begitu kuat dalam karya-karyanya. Kelak ketertarikan itu akan mendominasi sebagian besar karyanya yang mengangkat subyek perempuan. Lulus dari National Academy of Art, Antonio Blanco sempat bekerja di Florida dan California, Amerika (www.id.wikipedia.org). Namun, keinginannya untuk menjelajah pulau-pulau di kawasan Samudera Pasifik mendorongnya untuk melanglang buana.

Pengembaraan maestro lukis ini dimulai pada awal 1950-an, ketika ia memulai pelayarannya ke Hawai, kemudian Jepang dan Kamboja. Di Kamboja, ia menjadi tamu kehormatan Pangeran Norodom Sihanouk. Baru pada 1952, ia memutuskan berlayar ke Bali dan mendarat di Singaraja (www.balipost.com). Pada awalnya, Antonio Blanco sempat kecewa, sebab pemandangan di Singaraja tidak seperti yang terekam dalam buku The Island of Bali. Namun, setelah sampai di Ubud, menyaksikan alamnya yang permai, teduh, dilingkupi oleh tanah persawahan yang subur, dan dikitari oleh sungai yang berkelok-kelok, Antonio Blanco tak dapat menahan rasa takjub. Sejak pandangan pertama terhadap pesona alam Ubud dengan seluk-beluk masyarakatnya yang agraris dan penuh dengan ritus keagamaan, Antonio Blanco tak dapat memungkiri lagi, inilah tempat yang selama ini ia idamkan!

Ia pun mulai menetap dan bergaul dengan masyarakat Ubud, baik warga biasa maupun dari kalangan istana (puri). Setiap hari ia banyak mengobrol dengan masyarakat setempat, menyaksikan berbagai seni pertunjukan, atau mengunjungi Puri Saren Ubud untuk memperdalam pengetahuannya tentang kebudayaan Bali. Antonio Blanco sendiri dikenal sangat akrab dengan Raja dari Puri Saren Ubud, yaitu Tjokorda Gde Agung Sukawati yang sering mengajaknya jalan-jalan di sekitar kawasan Ubud. Pada suatu waktu, Tjokorda Gde Agung Sukawati mengajaknya menyusuri tanah perbukitan. Ketika sampai di atas, mereka menyaksikan bentangan alam yang sangat mempesona, perbukitan yang sejuk dan tenang dengan aliran Sungai Campuhan tepat di bawahnya. Tanpa dinyana, Raja Puri Saren Ubud memberikan sebidang tanah di atas Sungai Campuhan itu kepada Antonio Blanco. Sejak itu, dibangunlah sebuah pondok sederhana sebagai tempat tinggal dan studio melukis bagi maestro lukis Bali ini (www.balipost.com).


Antonio Blanco dengan latar belakang lukisannya
Sumber Foto: http://www.blancomuseum.com

Bagi masyarakat Ubud, Antonio Blanco tidak hanya dikenal sebagai seniman, tetapi juga orang luar yang pelan-pelan menghayati budaya Bali hingga menjadi orang Bali. Ketertarikannya terhadap kesenian Tari Bali mengantarkannya bertemu dengan penari cantik bernama Ni Rondji. Perkenalan mereka akhirnya berujung pada pernikahan pada tahun 1953, yang kemudian melahirkan empat anak, yaitu Tjempaka Blanco, Mario Blanco, Orchid Blanco, dan Mahadevi Blanco. Setelah menikah, Antonio Blanco memeluk agama Hindu dan secara taat menjalani ritual agama Hindu. Di rumahnya yang asri, Antonio merasa sangat nyaman, sehingga jarang sekali melakukan perjalanan meninggalkan Pulau Bali. Terhitung hanya dua kali ia meninggalkan Bali, yaitu berkeliling Eropa dan Amerika untuk kegiatan keseniannya. Kecintaannya terhadap Bali, khususnya Ubud, membuatnya memilih untuk menghabiskan usianya di tempat ini. Ketika meninggal pada 10 Desember 1999 di Denpasar, Bali, dalam usia 88 tahun akibat penyakit jantung dan gagal ginjal yang dideritanya, beberapa hari kemudian Antonio Blanco dikremasi dengan cara Hindu (Ritual Ngaben).

Museum Antonio Blanco sendiri mulai dibangun pada 28 Desember 1998, setahun sebelum kematiannya. Sayangnya, Antonio Blanco tidak dapat menyaksikan peresmian museum yang diberi nama ‘The Blanco Renaissance Museum‘ ini pada 15 September 2001. Museum ini memang dibangun untuk mengenang dan memamerkan karya-karya besar Antonio Blanco yang banyak memperkenalkan subyek budaya Bali kepada dunia. Museum tersebut dikelola oleh anak kedua Antonio Blanco, yaitu Mario Blanco yang juga mewarisi keahlian ayahnya sebagai maestro seni lukis.

Mengunjungi Museum Antonio Blanco, wisatawan akan terkagum-kagum terhadap karya jenius Antonio Blanco. Perjalanan kariernya yang panjang dan jalur pengembaraannya yang jauh membuat sosok Antonio Blanco sangat matang dalam menuangkan karya-karya seninya. Tak heran jika sebagai seniman dirinya memperoleh berbagai apresiasi dan penghargaan di dunia internasional. Penghargaan-penghargaan tersebut, di antaranya adalah Tiffany Fellowship (penghargaan khusus dari The Society of Honolulu Artists), Chevalier du Sahametrai dari Cambodia, Society of Painters of Fine Art Quality dari Presiden Soekarno, serta Prize of the Art Critique dari Spanyol, Honorary Doctorate of Philosophy (PH.D) dari National College Windsor, Canada, dan lain-lain. Antonio Blanco juga menerima penghargaan Cruz de Caballero dari Raja Spanyol Juan Carlos I yang memberikannya gelar ‘Don‘ di depan namanya, menjadi Don Antonio Blanco. Berbagai apresiasi dari kepala negara dan artis juga pernah diterimanya, misalnya dari Thalia Como dari Venezuela, Soekarno, Soeharto, Adam Malik (ketiganya mantan para pemimpin di Indonesia), Pangeran Norodom Sihanouk dari Kamboja, Michael Jackson, serta Ingrid Bergman (keduanya artis). Don Antonio Blanco juga dikenal menguasai berbagai bahasa, mulai dari bahasa Spanyol, Prancis, Inggris, Tagalog, Indonesia, hingga bahasa Bali.

B. Keistimewaan

Museum Renaissance Antonio Blanco dibangun di atas area seluas 20.000 m2 dengan bangunan bergaya Eropa. Meski demikian, berbagai ornamen khas Bali, tetap menjadi ciri khas dari museum ini. Di depan pintu masuk museum, dipajang foto Antonio Blanco yang melambangkan kepercayaan orang Bali sebagai penolak bala. Pada bagian atap museum, terdapat sebuah replika telinga yang sengaja dibuat sesuai pesan Antonio Blanco. Sebab, jika kelak ia meninggal, ia tetap ingin mendengar pujian maupun kritikan terhadap karya-karyanya.

Mengunjungi museum ini, wisatawan dapat menyaksikan sekitar 300 koleksi lukisan Antonio Blanco yang dibuat antara 1937 hingga 1999 yang memperlihatkan tahapan-tahapan pencapaian estetik dari sejak memulai kariernya hingga karya yang paling mutakhir. Memasuki gerbang depan museum, wisatawan akan segera disambut oleh suasana yang sangat alami. Berbagai hewan peliharaan Antonio Blanco, seperti burung golden macaw, kakatua raja, dan kakatua putih seolah menyambut kunjungan para wisatawan dengan kicauan dan gaya khas hewan-hewan cantik ini.

Dari depan museum, Anda dapat menyaksikan sebuah gerbang kokoh yang terbuat dari batu marmer dengan lekuk-lekuk garis yang membentuk gambar tandatangan Antonio Blanco. Gerbang unik yang telah mendapat penghargaan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) ini seolah menjelma sebagai ucapan ‘Selamat Datang‘ dari mendiang Antonio Blanco. Setelah mengisi daftar hadir, wisatawan akan dipandu oleh seorang staf untuk melihat-lihat karya serta memberikan penjelasan seputar karya yang dipamerkan di museum ini. Memasuki museum, wisatawan dilarang memotret agar karya lukis yang ada tidak cepat rusak karena over cahaya.


Ruang pamer yang memajang karya Antonio Blanco
Sumber Foto: http://www.blancomuseum.com

Lukisan-lukisan Antonio Blanco dipamerkan di lantai satu dan lantai dua. Tema lukisan yang ada pada umumnya mengekplorasi tubuh perempuan Bali, termasuk istrinya (Ni Rondji) dan putri pertamanya, Tjempaka Blanco. Eksplorasinya yang brilian terhadap obyek tubuh perempuan mengantarkannya sebagai seorang pelukis kenamaan dengan aliran ‘impresionis romantis‘. Menurut http://www.kabarindonesia.com, kecintaannya terhadap sosok perempuan disebabkan karena ia berada di dalam kandungan selama 11 bulan, sehingga ia menganggap perempuan adalah sosok yang penuh dengan pengorbanan. Berkat minat yang sama terhadap seni dan kemampuannya menghadirkan keindahan tubuh perempuan, konon Presiden Soekarno kerap mengunjungi Antonio Blanco untuk sekedar mengobrol atau melihat hasil lukisannya. Presiden Soekarno memang dikenal menaruh minat yang cukup besar terhadap penggambaran sosok perempuan. Selain tubuh perempuan, ada juga beberapa lukisan yang menggambarkan alam dan budaya Bali.

Karakter lukisannya yang ekspresif juga dilengkapi dengan bingkai lukisan yang istimewa. Tidak seperti lukisan pada umumnya, setiap karya Antonio Blanco dibingkai dengan bingkai khusus yang berbeda-beda pada tiap lukisan. Bingkai lukisan tersebut didesainnya sendiri mengikuti tema lukisan agar sesuai dengan apa yang ingin disampaikan oleh pelukisnya. Setiap lukisannya juga tidak mencantumkan tanggal atau tahun. Konon, ia berharap agar lukisannya selalu dikenang bukan dari tanggal atau tahun pembuatannya, melainkan dari pencapaian estetiknya sehingga akan dikenang abadi.


Lukisan-lukisan Antonio Blanco
Sumber Foto: http://www.blancomuseum.com

Pada sebuah pojok ruangan, terdapat ruangan terpisah bernama “Erotic Room”. Ya, sesuai namanya, di ruangan khusus ini dipajang berbagai koleksi pribadi Antonio Blanco dengan tema yang lebih “liar”, yang menggambarkan keelokan tubuh lelaki dan perempuan. Karena koleksinya yang tidak lumrah itu, maka pengunjung yang boleh menikmati ruangan ini disyaratkan telah berusia di atas 17 tahun. Ruangan lainnya yang memamerkan kilasan perjalanan karier dan keluarga Blanco adalah ruangan yang memajang foto-foto Antonio Blanco, foto keluarga, serta foto orang-orang penting di sekitar kehidupan dan karier Antonio Blanco.

Dari ruangan foto, wisatawan dapat menuju ke ruangan lain, yaitu ruangan Mario Blanco (putra kedua Antonio Blanco) yang menjadi tempat memajang lukisan-lukisan karya putra mestro lukis tersebut. Mario Blanco memang mewarisi darah seni dari ayahnya. Namun, berbeda dengan Antonio, Mario Blanco lebih banyak mengekslporasi subyek dengan tampilan tiga dimensi. Pada ruangan terakhir, wisatawan dapat melihat studio yang dulu dipakai sebagai tempat melukis Antonio Blanco. Saat ini, studio tersebut digunakan oleh Mario Blanco. Di ruangan ini, wisatawan dapat mengambil gambar, atau difoto dengan gaya seorang pelukis ulung.


Studio lukis yang kini dipakai Mario Blanco untuk melukis
Sumber: http://www.blancomuseum.com

C. Lokasi

Museum Renaissance Antonio Blanco terletak di Jalan Raya Campuhan, Desa Sayan, Ubud, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, Indonesia. Museum ini buka setiap hari dari pukul 09.00 hingga 17.00 WITA.

D. Akses

Untuk menuju Museum Antonio Blanco, wisatawan dapat memanfaatkan berbagai sarana transportasi dari Kota Denpasar, Bandara Ngurah Rai, atau tempat-tempat lain di Bali dengan menggunakan taksi, jasa agen perjalanan, atau persewaan mobil dan motor. Dari Bandara Ngurah Rai, museum ini terletak sekitar 40 kilometer (sekitar 1 jam perjalanan), sementara dari Terminal Bus Gianyar sekitar 30 kilometer (sekitar 45 menit perjalanan). Apabila menggunakan taksi, ongkos dari Bandara ke Museum Antonio Blanco sekitar Rp65.000,00 (Mei 2009).

E. Harga Tiket

Wisatawan yang berkunjung ke museum ini dikenai biaya tiket yang berbeda, yaitu Rp30.000,00 untuk wisatawan domestik, dan Rp50.000,00 untuk wisatawan asing.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Mengunjungi museum ini, setelah membayar tiket masuk, wisatawan akan memperoleh welcome drink berupa sirup yang menyegarkan. Tak hanya itu, wisatawan juga akan didampingi oleh pemandu yang siap mengantarkan dan menceritakan ihwal karya-karya Antonio Blanco. Para pemandu yang masih anggota keluarga Antonio Blanco ini juga akan menceritakan sejarah kehidupan Antonio Blanco sejak awal kariernya, hingga menetap dan meninggal di Bali.


Toko suvenir dan kantin
Sumber Foto: http://www.blancomuseum.com

Usai menikmati karya-karya Antonio Blanco, wisatawan dapat melihat-lihat suvenir yang disediakan di museum ini, seperti buku-buku mengenai Antonio Blanco serta duplikat foto lukisan (litograf) karya Antonio Blanco yang mendapat bonus tandatangan dari penerusnya, Mario Blanco. Mario Blanco lebih sering berada di studio yang bersebelahan dengan museum, sehingga wisatawan juga dapat mengobrol mengenai karya atau perkembangan dunia seni lukis. Museum ini juga telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas, antara lain ruang auditorium, perpustakaan, laboratorium/konservasi, ruang penyimpanan koleksi, ruang bengkel/preparasi, ruang audio visual, ruang administrasi, kantin/kafe, serta toilet. Di museum ini juga telah dilengkapi dengan toko suvenir yang menjual berbagai kerajinan khas Bali

3 Responses to “Museum Renaissance Antonio Blanco”

  1. Lia Says:

    Saya benar2 merasa kagum sejak datang dan melihat hasil karya almarhum Mr Antonio Blanco sehingga saya akhirnya membuka situs museum blanco.saya berharap dapat belajar juga kembali mengunjungi museum blanco.

  2. Zaza Says:

    Setelah Pergi ke Bali 9-12 Jan 14′ terkagum dengan seni lukis Sir Don, apalagi setelah kehilangan gelang dari museum tersebut, Tapi masih bisa terkenang Sir Don sangat Kagum dengan Indonesia, Semoga Sir Don Bisa Dikenang Oleh masyarakat seluruh dunia karena Orang Asing saja ingin sekali tinggal di indonesia yang penuh Seni, Budaya, dan Bahasa yang seru meskipun agak rumit, Thanks Sir Don For Indonesia🙂

  3. Zaza Says:

    Happy With Sir Don Because He So… I Can’t Tell, Sir Don, Happy With Your Destiny, Mrs. Ni Rondji. So Sad, I Can’t See Face Sir Don ({}) But I Can Feel, Sir Don Smiling🙂🙂🙂 (Y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: